Pendahuluan :
Kuliah Umum Kuliah Tauhid
WWW.WISATAHATI.COM
Kuliah Umum Kuliah Tauhid
Benahi Pola Pikir, Benahi Pola Ikhtiar
Ust. Yusuf Mansur
11 – Mei – 2011
Makalah/buku kecil di tangan Saudara ini adalah Kuliah Umum yang diberikan oleh Ustadz Yusuf Mansur, sebagai pengantar untuk memasuki Kuliah Tauhid di KuliahOnline. KuliahOnline adalah perkuliahan tentang hidup dan kehidupan yang diasuh oleh Ustadz Yusuf Mansur dan asaatidz Daarul Qur’an/Wisatahati. KuliahOnline bukan hanya bicara tentang hajat, doa, dan kesulitan hidup. Tapi juga soal memaknai kehidupan agar lebih berarti, lebih hidup, dan lebih manfaat.
Judul materi :
Kuliah Umum Kuliah Tauhid Tauhid: Benahin Pola Pikir, Pola Ikhtiar
Assalaamu’alaikum warohmatuwloohi wabarokaatuh.
Bismillaahirrohmaanirrohiim…
Awloohumma shollii ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘alaa aali Sayyidinaa Muhammad, kullamaa dzakarokadzdzakiruun wa ghofala ‘an dzikrikal ghoofiluumn. Subhaanawloohi wabihamdihii subhaanawloohil ‘adzhiim, ‘adada kholqihii wa ridho nafsihii wa zinata ‘arsyihii wa midaada kalimaatihi. Awloohumma innaa nas-alukal hudaa wat tuqoo wal ‘afaafa wal ghinaa. Awloohumma inna nas-aluka hubbaka wa hubba nabiyyika Muhammadin shollawloohu ‘alaihi wasallama, warzuqnaa kulla ‘amalin yuqorribunaa ilaa hubbika wa hubbi nabiyyika Muhammadin shollawloohu ‘alaihi wasallam, walhamdulillaahi robbil ‘aalamiin.
Salam dari 2 Kota Suci: Makkah al Mukarromah dan Madinah al Munawwaroh. KuliahOnline dimulai sejak tahun 2008, namun kuliah umum ini saya tulis di perjalanan umrah Maret 2011. Sekalian saya berdoa agar semuanya bisa ke tanah suci. Yang sudah ke tanah suci bisa kembali lagi bersama keluarga yang dicintai, dan bahkan menjadi wasilah keberangkatan orang lain. Amin.
Pesona Makkah dan Madinah ga ada habis-habisnya. Terutama yang pengen nge-cas imannya, dan memohon ampun kepada Allah. Dan siapa juga yang ga kepengen diterima dan bertamu kepada orang penting? Lah, ke tanah suci, bukan sembarang bertamu. Dan tuan rumahnya bukan sembarang tuan rumah. Ini bertamu ke Rumah Allah. Sebutannya saja Baitullah al Haram. Rumah Allah yang disucikan. Bertamunya ke rumah Allah dan yang menerima adalah Allah.
Buat Saudara yang Tuhannya bukan duit, bukan mobil yang nunggu laku, bukan rumah dan tanah yang nunggu kejual, baru bisa pergi, bukan. Bukan itu semua. Tapi Tuhannya adalah Allah, adalah pas sekali mengikuti kuliah tauhid ini. Sebab termasuk di antaranya adalah meyakini hanya Allah dan hanya Allah saja, sebagai penegasan, yang bisa memberangkatkan dan menggagalkan seseorang ke tanah suci. Dengan Kuasa-Nya, banyak orang miskin bisa beroleh kesempatan berhaji dan umroh. Dengan Kuasa-Nya, orang-orang sakit tetap dapat berangkat, dan bertambah-tambah rizki buat mereka yang berangkat dengan rizki yang dikuasakan Allah.
Insya Allah ada kanal tersendiri yang membahas perjalanan ini. Sungguhpun nanti disinggung juga perjalanan ke Baitullah sebagai pembahasan perjalanan tauhid.
Tatkala saudara membaca bait demi bait pertama ini, hela lah sebentar nafas saudara. Tarik yang dalam, kemudian lepaslah dengan lapang. Kemudian berdoalah kepada Allah dengan bershalawat dulu kepada Rasulullah dan beristighfar. Dan berdoalah agar Saudara beroleh rizki, kesehatan, umur, kesempatan, kelapangan, bisa ke Baitullah.
Silahkan sebentar berdoa ya… Walopun doanya “Cuma” begini: Yaa Allah, berangkatin saya ke Mekkah dan Madinah…
***
Mudah-mudahan Allah menerima ya.
Amin.
Kembali lagi.
Pembahasan yang saya tulis untuk Kuliah Umum ini sebenarnya ada di Kanal kuliah Pilihan: Segitiga Wisatahati secara lengkapnya. Namun ia saya jadikan Kuliah Umum jelang Kuliah Perdana tentang Belajar Keyakinan. Mudah-mudahan Allah ridha dan memberikan berkah-Nya.
Saya SERTAKAN juga FILE AUDIO nya. Silahkan didownload di website www.wisatahati.com dengan namafile: Audio Kuliah Umum Kuliah Tauhid. Mohon didenger, dipelajari, baiik-baik. Ulangi, ulangi, dan ulangi. Hingga Allah berikan pemahaman yang baik.
Namun sebelom mendengar file audio tersebut, silahkan dulu habiskan materi tulisan ini. Dan buat yang sudah mendengar audionya, tapi belom membaca tulisan ini, sebaiknya baca juga. Supaya saling melengkapi. APA-APA YANG TIDAK TERDAPAT DI KULIAH UMUM EDISI TULISAN, BISA JADI ADA DI EDISI AUDIONYA. Dan sebaliknya: APA-APA YANG GA ADA DI FILE AUDIO, BISA JADI ADA DI FILE TULISANNYA.
Sehabis ini Saudara akan mengarungi perjalanan kuliah tauhid yang sangat menyenangkan. Sebab ia akan dipakai di kehidupan sehari-hari. Insya Allah.
Kepada Allah kita minta agar Allah bukakan pemahaman yang hanief, yang lurus, yang lempeng, yang bagus, tentang diri-Nya, tentang kekuasaan-Nya. Tidak ada yang bisa mengenal diri-Nya kecuali Allah sendiri yang mengenalkannya dan mengajarkan. Upaya kita untuk mengenal Allah mudah-mudahan dihitung sebagai ibadah. Semoga Allah memberikan bimbingan-Nya. Amin.
***
Pola hidup tauhid itu sederhana: Libatkan Allah.
Libatkan Allah di awal, di tengah, di akhir.
Untuk semua perkara hidup kita.
Kuliah umum saya buka dengan sms dari jamaah. “Ustadz, emangnya aib punya hutang itu? Bukankah di al Qur’an ada aturan-aturan tentang hutang?”
Maksudnya mungkin, kalo ga boleh, masa di al Qur’an ada aturannya? Itu kan artinya boleh. Begitu kali maksudnya.
Saya akan menjawab dari sudut pandang tauhid yang mau kita geber nih di sepanjang perkuliahan nanti.
Soal fiqhnya, boleh dan engganya, saya ga akan jawab. Pastinya, boleh lah. Selama bukan riba. Dan selama bukan untuk tujuan konsumtif. Ada lagi secara fiqih hutang yang tidak diperbolehkan. Yakni manakala kita nawaitu ngemplang ga bayar, ha ha ha.
(+) Ustadz… katanya ga akan bahas secara fiqh. Itu dibahas? He he he.
(-) Iya. Ya segitu-gitunya aja dah jawaban.
(+) Kalo hutang di bank?
(-) Nah itu yang saya maksud ga akan saya bahas. Biarlah itu urusan ahlinya. Kan udah ada bank syariah kalo Ente ragu mah?
(+) Tapi kan sekarang banyak jamaah yang punya hutang di bank?
(-) Udah ya. Kalo diterusin, itu jadi pembahasan fiqih. Saya mau ngajar dulu. Jangan disela. Ini Kuliah Umum, kuliah pengantar setelah Mukaddimah. Pengajaran ini penting. Sebab jadi basic. Jangan ganggu dulu ya. minggir dulu sana. Jangan nongol-nongol dulu…
(+) Ya, tapi kan ga bisa dipisahin sama tauhid. Islam itu kan isinya: Syariat (Fiqh), Ibadah, dan Akhlak?
(-) Masa?
(+) Laaaahhh, masa Ustadz ga tahu?
(-) He he he… Udah ya. kita bahas yang lain dulu. Kasian loh jamaah kalo digangguin. Ntar diadain workshop deh. Seminar. Tentang apa yang Ente ajuin buat dibahas. Tapi jangan di sini. Masih pagi juga.
(+) Ok. Afwan. Maaf. Tapi saya ngasih tambahan boleh?
(-) Ga apa-apa. Silahkan. Ngutangnya aja banyak yang maen-maen sama Allah Yang Maha Melihat. Cara-caranya suka ada yang curang. Malsuin dokumen, dan lain-lain yang “harus” diambil supaya mulus jalan pencairan kredit. Yang begini ini akan mengundang petaka.
(+) Iya dah. Saya ga komentari dulu ya?
(-) Iya. Tapi ini soal tauhid loh… proses nya aja udah lupa sama Allah, apalagi nanti kalo udah dapat kan? Prosesnya kudu bener.
(+) He he he…
(-) Koq ketawa…?
(+) Ya udah. Saya ngajar dulu.
(-) he he he, iya dah. Silahkan.
Saudara-saudara Peserta Kuliah Umum Kuliah Tauhid, kita kembali lagi ya.
Maaf nih. Saat saya nulis, “kembaran” saya suka nyelonong masuk.
Di awal tadi saya katakan ada jamaah yang bertanya, apakah aib berhutang itu?
Dari sudut kacamata tauhid, terutama dari yang saya pelajari, yang aib itu bukan berhutangnya. Tapi lebih ke soal pikiran dan ikhtiarnya. Ke soal pola nya. Kalo dikit-dikit ngutang, dikit-dikit ngutang, yang diandelin dan digedein adalah hutang melulu, maka ada Tuhan lain tuh buat dia. Yakni: Hutang. Seakan-akan kalo ga ngutang ga akan bisa begini ga bisa begitu. Yang susah ya dia sendiri. ilmunya ga berkembang, potensinya ga bisa berkembang, dan kreatifitasnya bisa jadi kurang hebat dibanding jungkir balik ngembangin bisnis tanpa basis hutang.
(+) Yang punya hutang biasanya juga kreatif-kreatif.
(-) He he he, dia nongol lagi.
(+) Ga tahan.
Iya kalo kreatif. Bagaimana kalo kemudian bukan kreatif yang ada. Malahannya kepojok. Gimana? Jangan ampe ditinggal Allah gara-gara kita ninggalin Allah. Jangan sampai dilupakan Allah, gara-gara kita melupakan Allah. Jangan sampai tidak ditolong Allah, gara-gara kita ga ngelibatin Allah.
Kalo jalannya bener, maka berhutang juga bisa jadi ibadah. Sebelom berhutang ke Allah dulu. Nanya dulu. Minta keputusan Allah. Jangan maen ngutang aja. Minta ridhonya Allah. Minta dukungannya Allah. Minta bantuannya Allah. Umpama kita punya usaha hancur babak belur, Allah akan “bertanggung jawab” cariin jalan rizki lain buat kita. Sebab apa? Sebab duluuuuuu sebelomnya ngutang, kita minta pendampingan Allah.
Ntar nih, dari soal hutang ini bisa ditemplate di urusan lain.
Berobat. Berobat boleh ga? Boleh banget. Wajib malahan sebagai ikhtiar. Tapi kalo maen berobat aja? ga ngelibatin Allah? Apa bagus?
Minim-minim doa lah. Minta sama Allah. Ngomong sama Allah. Sambil memelihara yang wajib, ngidupin yang sunnah. Ngejaga ibadah gitu.
Kerja, usaha, buka toko, nikahin anak, nikah, cerai, minta tolong sama saudara, dan lain sebagainya, semuanya jadi ibadah kalo tauhidnya bagus.
Tauhid yang bagus, iman yang bagus, akan ngasilin amal saleh yang bagus. Libatin Allah. Sering-sering inget sama Allah. Sebelom dan sesudah, dan bahkan di prosesnya.
***
Saya kasih gambaran ya.
Seseorang mau ngembangin toko. Lalu ada kesempatan dia berhutang. Ya silahkan saja. Bagus namanya. Ada yang percaya. Kalo dijaga kepercayaan ini, insya Allah akan terus diberi kepercayaan itu. Namun, nanti perilaku kita di kemudian hari juga akan berpengaruh pada perlakuan Allah terhadap kita. Seseorang yang setelah dibagi hutang, dapat hutangan, lalu dia tidak mengingat Allah, tidak mengingat akan kewajibannya kepada Allah, maka bisa jadi hutang itu kelak akan jadi petaka buat dia. Dan masya Allah nya, andai kemudian saat sebelom berhutang ingat Allah, saat hutang dapat dan dijalankan, ingat Allah, maka insya Allah andaipun usaha hancur lebur, rizki akan ada saja diberi oleh Allah sebagai jalan.
Di Kuliah Tauhid, penuh diajarkan cara berpikir dan berikhtiar yang bertauhid sejak awal sekali. Libatkan Allah, libatkan Allah, libatkan Allah. Cari Allah, cari Allah, cari Allah. Andelin Allah, andelin Allah, andelin Allah.
Entah mengapa di Kuliah Umum ini yang diambil adalah soal hutang. Mungkin karena banyak yang punya hutang kali, he he he. Tapi insya Allah nanti seperti yang sudah dikatakan di awal, akan menjadi pembelajaran untuk diterapkan di urusan-urusan yang lain. Seperti berobat, bekerja, berusaha, belajar, ngajar, nikah dan menikahkan, bahkan bercerai dan aneka ragam peristiwa dan kegiatan kehidupan.
Berobat misalnya. Apakah orang yang bertauhid bagus lalu menjadikan dia tidak berusaha, tidak berikhtiar berobat? Ketika punya penyakit? Itu namanya konyol. Bahwa di kemudian hari ada yang menggunakan shalat malam sebagai terapi, sholawat sebagai terapi, istighfar sebagai terapi, sedekah sebagai terapi, baca Qur’an sebagai terapi, itu adalah bahagian dari ikhtiar pengobatan. Tapi tidak dimaksudkan sebagai pasrah yang berarti diam. Sebab tauhid yang bagus juga memiliki arti dan makna: Bergerak menuju Allah.
Bahkan ketika berobatnya adalah berobat ke dokter dan ke rumah sakit atau klinik, bisa koq ia dikatakan sebagai tauhid yang bagus dan menjadikan pengobatannya itu adalah ibadah.
Bagaimana caranya?
Pola nya sama dengan penjelasan bab hutang ini.
Ke Allah aja dulu. Minta ampun sama Allah. Barangkali sebab kelalaian tidak menjaga diri; baik menjaga kesehatan secara fisik maupun tidak menjaga diri dari maksiat dan dosa. Kemudian minta petunjuk dari Allah. Kira-kira ke mana harus berobat. Minta petunjuk lewat shalat-shalat, lewat doa-doa. Hitungan 1-2-3, jalan dah berobat. Petunjuk itu akan datang.
Apa maksudnya 1-2-3?
Sama nanti dengan penjelasan hutang. Jangan maen berobat saja. jangan maen jalan saja. kalem aja dulu. Ke Allah aja dulu. Supaya ga ngabisin energi. Supaya ga ngabisin duit juga, he he he. Tepat. Efektif. Mujarab langkahnya. Sebab dibimbing oleh Allah.
Siapa tahu Allah berkenan memberikan Bimbingan-Nya. Akan ada saja jalannya. Ada orang lah datang. Lalu bicara-bicara tentang penyakit, hingga sampai ke penyakit kita atau keluarga kita. Atau ada yang lebih spektakuler dari itu; Allah mengirimkan malaikat-Nya untuk mengoperasinya!
Bisa aja koq kejadian kayak begini. Kun fayakuun Allah banyak kejadiannya.
Sepasang suami istri yang baru menikah, dikarunia rizki dari Allah. Istrinya hamil. Namun ada masalah di kehamilannya, dan di diri sang istri. Hingga keduanya harus memilih nyawa siapa yang dipertahankan. Status kehamilannya menurut dokter, menurut paramedis, tidak bisa dipertahankan. Bakal membahagiakan sang ibu. Atau setidaknya bagi si bayi sendiri bakal bahaya. Kalaupun lahir, umurnya ga panjang.
Alih-alih menggugurkan, sepasang pasangan muda ini malah ngeringsek ke Allah. Merapat ke Allah. Minta petunjuk.
Ini dia nih cara tauhid yang Yusuf Mansur “pasarkan”. Ke Allah dulu daaaah… Jangan ambil pertimbangan sendiri. jangan maen jalan sendiri. Libatkan bukan saja Yang Maha Tahu, tapi juga DIA Teramat Kuasa.
Sekian waktu minta petunjuk, desakan mengambil keputusan begitu kuat.
Naluri seorang ibu mengatakan, biarlah ia yang mengalah. Kalau harus mati, biarlah ia yang mati.
Wuah, sedih dah ceritanya.
Nulis ini aja merinding dan mau nangis.
Hebat sekali memang seorang ibu itu.
Tapi jika boleh memilih, dan itu lah permintaannya, jangan ada yang kalah. Dua-duanya mudah-mudahan sehat dengan izin-Nya, dan panjang umur.
Dua-duanya suami istri ini memutuskan untuk melanjutkan kehamilan istri hingga persalinannya. Doa-doa suami saat bangun malam, saat dhuha, saat shalat fardhu, memperkuat sang istri.
Luar biasa. kalaupun istri ini nyampe umurnya, syahid berganda-ganda dia ini. Juga suaminya, umpama pun umur si suami nyampe, ibadahnya sedang bagus-bagusnya.
Yah, saudara semua, kadang kita ini payah. Kalau ga ada momen, kita ga deket sama Allah. Ibadah ga getol, ga kuat, ga sabar, ga banyak. Beda kalo lagi ada sesuatu.
Tiba masanya lahir, sang ibu selamat. Ternyata tidak ada kejadian apa-apa seperti yang dikuatirkan.
Tapi si bayi ini ada masalah. Kesehatannya menurun. Hingga kemudian dokter menyuruh suami istri ini bersyukur, udah sempat melihat bayinya, andaipun bayi ini harus lebih cepat menghadap Allah.
Sepanjang itu, sepanjang dari diketahui hamil, hingga saat itu, suami istri ini tiada henti berdoa, munajat, zikir, kepada Allah.
Sampelah suatu malam. “Dipastikan secara medis” bayi ini bakal game. Engkongnya bayi ini udah langsung nyiapin kuburan bagi ni bayi. Supaya bisa langsung dikubur begitu “selesai” di rumah sakit.
Malam itu dikisahkan suami istri ini munajat pol-polan. Dia berdua tutup pintu rumah rapat-rapat dan munajat kepada Allah.
Ya, suami istri ini udah di rumah. Bayi nya masih di rumah sakit.
Munajatnya malam itu agak berbeda. Munajat syukur.
Mereka mencoba berdamai dengan kenyataan. Mereka malam itu memilih meminta sama Allah hati yang bersyukur. Betul kata orang-orang, dia sudah pernah merasakan menjadi ibu. Udah sempat hamil. Dan bahkan sudah melihat bayinya. Sudah memeluk, mencium, menggendong.
Subhaanallah. Betul. Ibu ini hebat udah memilih bersyukur. Banyak perempuan yang engga/belom dikasih kesempatan merasakan bagaimana hamil itu. Dan sebagiannya lagi ga pernah lihat bayinya, entah itu keguguran, atau meninggal saat lahir.
Kakak saya sendiri, Kaka Misan/Sepupu, pernah sedih agak panjang, sebab anaknya ga sempat dia lihat. Anaknya meninggal di dalam kandungan. Keluarga beliau, entah bagaimana, mengambil keputusan, jangan sampe kakak misan saya ini sempat melihat anaknya. Takutnya makin sedih katanya. Jadi begitu lahir, langsung dikubur. Subhaanallah.
Boleh saja kita-kita bilang keputusan keluarga ini salah. Keluarga ini keluarga hebat. Mereka bahu membahu mendoakan. Di kemudian hari Allah ganti dua anak untuk kakak misan saya untuk jangka waktu yang ga seberapa lama. Langsung isi lagi perutnya.
Nah, si ibu muda ini sempat melihat, sempet menggendong, sempet mendekap, sempet mencium. Fabi-ayyi aalaa-I robbikumaa tukadzdibaan; kalau dipikir-pikir, pasti lebih banyak ni’mat ketimbang persoalan hidup.
Malam itu mereka berdua munajat syukur, pol-polan.
Dini hari, jelang shubuh, saat orang-orang saleh menegakkan shalat malam, berzikir, bertasbih, berdoa, ibu ini datang ke rumah sakit. Membawa susu perasan yang udah dikebotolin. Ibu ini memaksa suster-suster untuk memberikan susu ini ke bayinya saat itu juga. Dan ditungguin! Setelah dipastikan bayinya ini meminum, ibu ini pulang.
Esoknya terjadi kegemparan. Sebab si ibu tidak merasa memberikan bayi buat susunya?
Pertanyaannya, siapa yang datang kalo begitu?
Yang datang adalah malaikat Allah.
Susunya?
Susu dari surga.
Sejak saat itu bayi tersebut cenderung membaik, dan malahan bisa dibawa pulang.
Kuburan yang sudah dipersiapkan, ditutup kembali.
Masya Allah.
La koq bisa? Bisa. Sebab si ibu dan si ayah, mengundang Kuasa Allah. Walaupun tidak harus happy-ending di saat itu juga (bisa jadi skenario Allah harus mati itu anak), Allah tentu saja akan memberikan Keputusan Terbaik-Nya.
Kalau dilihat perjalanan meminta pertolongan Allah, si ayah dan si ibu ini tidak telat. Dari awal udah digeber menuju Allah. Dibawa menuju Allah. Allah kemudian tambah mendatanginya.
Kisah ini sebagaimana dikisahkan Ustadz Abdul Aziz Daarul Qur’an dari cerita konselingannya.
Lah terus kita gimana?
Kadang-kadang kita bawa segunung persoalan hidup kita, setelah mentoknya.
Bagus sih. Tapi bukankah lebih bagus kalau kita bawa persoalan hidup kita sebelom lagi kita beroleh persoalan? Alias, punya masalah dan ga punya masalah, ya dekat terus sama Allah.
***
(+) Sebentar, sebentar Ustadz…
(-) Lah, Kamu lagi…
(+) Ga boleh nih…?
(+) Silahkan. Kadang-kadang Kamu itu suka bener selangannya, he he he.
(+) Di atas Ustadz bilang 1-2-3. Kalo perlu, begitu kata Ustadz jangan dibarengin ikhtiar ke Allah nya, dengan ikhtiar manusianya. Sebut saja begitu dah ya. Lah, buat yang kepepet?
(-) Saya berdoa semoga Saudara mengikuti ini dalam keadaan tidak kepepet. Sehingga melahirkan hitungan 1-2-3 sebelom Saudara bermasalah. Maksudnya, dekati Allah, cari Allah, libatkan Allah, jauh sebelom berperkaranya. Istilah saya mah, nabung amal.
(+) Lah, buat yang emang beneran kepepet. Sebutlah anfal jantung. Masa shalat dulu, sedekah dulu? Kan kudu langsung penanganan cepat…
(-) Dalam kasus itu, iya. Silahkan langsung ditangani. Tapi kan selalu bisa menyempatkan waktu untuk Allah. Shalat mungkin saja ga sempat. Tapi berdoa? Kan mungkin bisa. Sepanjang jalan menuju rumah sakit, bersholawat, beristighfar, yang nganter loh ya. Mungkin yang anfal mah, lagi ga inget apa-apa, he he he. Orang yang terlatih ke Allah dulu, akan serta merta biasanya. Dalam paniknya, tetap menyempatkan diri bersedekah, jika ada. Entah sedekah apa misalnya. Dalam paniknya, tetap kemudian selalu ada waktu untuk berdoa. Minimal ketika jalan ke rumah sakit, iya kan? Ok, udah ya? saya lanjutkan.
Ada yang tahu doa Dzun-Nuun? Doa nya Nabi Yunus?
Ya betul. Itu yang bunyinya sangat populer. Laa-ilaa-ha illaa anta, subhaanaka inni kuntu minadz-dzalimiin. Doa ini diketahui orang sebagai doanya Nabi Yunus tatkala ia ada di dalam kegelapan berganda. Gelapnya malam, gelapnya dalam lautan, gelapnya perut ikan. Dikisahkan kemudian Nabi Yunus ditolong Allah. Ia cepet ditolong Allah, keluar dari perut ikan. Dan bahkan Allah memberikan beliau jamuan makan setelah selamatnya di daratan.
Suatu ketika Nabi Muhammad saw memberi nasihat tentang satu doa yang jika ingin ditolong Allah di kesulitannya, dilegakan hatinya, dilapangkan perasaannya, ditenangkan dari kegundahan, maka sabda Rasul, bacalah doa ini. Doanya Nabi Yunus.
Di telaah doa tentang Nabi Yunus ini, ternyata ada sesuatu yang menarik. Yang menjadi jawaban bagi banyak orang yang punya kesulitan, lalu membaca doa ini, tapi ga kunjung selesai persoalan hidupnya.
Rupanya, ketika Nabi Yunus ditelan ikan, Nabi Yunus membaca doa ini yang mana doa ini didengar oleh malaikat. Malaikat bertanya kepada Allah. Kami mendengar shouta ‘abdik, suara hamba-Mu, yang ma’ruuf, yang udah dikenal sebelomnya. O-o-o-oooohhh… Rupanya Nabi Yunus memang dikenal minal musabbihiin, dari golongan orang-orang yang sudah bertasbih duluan sebelom punya kesulitan. Dan Allah pun memujinya sebagai orang yang dikenal “beriman”. Lihat di Surah al Anbiyaa: 87-88.
Kalo kita? He he he, jangankan pas kaya, pas miskin juga jarang inget Allah… Tentu dikecualikan Saudara-saudara yang istiqomah dalam ketaatan ibadah. Tapi umumnya ya gitu daaaah. Jangankan pas senang, pas susah pun ga bener-bener merapat kepada Allah.
Malaikat bertanya kepada Allah, di mana gerangan hamba-Mu ini yaa Robb? Memang tidak ada yang diketahui oleh malaikat kecuali Allah yang memberitahunya. Allah kemudian memberikan petunjuk kepada malaikat dan mengenalkannya. Dan datanglah pertolongan Allah.
Terus, gimana tuh sabda Rasul? Sabda Rasul mah bener banget. Baca aja terus. Kita-kita ini kan terlambat bacanya, he he he. Baca aja dulu, hingga energi bacaan ini mendatangkan keputusan Allah.
Di kuliah tauhid nanti kita pun akan belajar sedikit banyaknya tentang apakah yang terbaik itu kalau persoalan selesai? Belom tentu ternyata. Bisa saja yang terbaik itu adalah kalau hidup kita masalah terus. Sebab siapa tahu kita-kita ini tergolong orang yang lepas dikit aja dari kesusahan langsung lalai. Na’udzuu billaah…
Kembali ke soal kuliah umum ini. Ke soal ngebenahin pola pikir pola ikhtiar.
Kita sudah belajar sedikit ya. Bahwa persoalannya adalah bukan berobatnya. Tapi soal maen jalannya itu. Hingga Allah “tidak mau tahu”. Kalaulah tidak ada doa dari yang lain, niscaya kita bener-bener ga akan ditolong. Alhamdulillahnya Allah itu binnaasi la-ro-uufur rohiim, sama manusia itu sangat penyayang, sangat baik. Ada saaaaatttu aja yang mendoakan si fulan yang males ibadah, males doa, sedikit amal salehnya,subhaanallah sudah cukup membuat Allah memutuskan memberikan pertolongan. Sayang beribu sayang, jika hal ini tidak diketahui, tidak diinsyafi, tidak disadari, maka si fulan tersebut akan terus tidak menyadari kekeliruannya.
Buat dokter pun begitu. Jika maen ngobatin aja, ga pake ngelibatin Allah, ga pake bismillah, ga pake doa, maka jatuhlah ia pada pola mengobati tanpa tauhid. Syukur-syukur sebenernya dia bisa ngajak pasiennya ke Allah. Cakep banget dah.
Penjelasan kali lebar di perubahan pola pikir pola ikhtiar ini ada di Kanal Kuliah Segitiga Wisatahati: Mengubah Pola Pikir, Mengubah Pola Ikhtiar. Kajiannya didalemin.
Sesuatu yang mau digarisbawahi di sini adalah: Libatkan Allah. Baik di awal, di tengah, dan di akhir. Mau apa-apa, tanya Allah, cari Allah, libatin Allah. Tanya apa keputusan Allah? Minta bantuannya Allah. Sungguhpun mungkin urusan yang sedang kita minta adalah urusan yang sudah “di genggaman kita”, atau kita punya bayangan untuk itu.
Emangnya ada?
Ya mungkin saja ada.
Kita mau bayar anak sekolah. Kita punya motor. Maka bayangannya kan ada tuh? Jual motor.
Kita mau naek haji. Punya sebidang tanah. Kayaknya kebayang dah darimana duitnya.
Kita pengen beli motor, beli mobil, tuker motor, tuker mobil, ama yang muda-an, duit udah ada. Kan harusnya tinggal jalan tuh?
Kita pengen renovasi rumah. Kita pengen beli rumah. Jalan udah ada. Duit udah siap. Pengen dagang udah ada yang janjiin modal. Pengen kerja udah ada yang bakal bawa masuk. Semua itu adalah keadaan yang bisa jadi Allah ga akan diajak ngomong. Ga dilaporin. Nah, sebaiknya di keadaan begini pun Allah diajak terlibat. Ditanya. Dimintai keselamatan-Nya, keterlibatan-Nya. Dan diminta tetap pertolongan-Nya. Jangan sok belagu. Jangan mentang-mentang.
Nah, apalagi di ketiadaannya, iya kan? Makin perlu dah seharusnya kita sama Allah.
Sebenernya sih kalimat ini ga cakep. Dua-dua keadaan perlu. Saat susah perlu Allah, saat senang juga jangan salah. Tetap sangat perlu Allah. Kita ga tau kapan saat Allah menukar ni’mat jadi keadaan yang sangat kita perlu Allah.
Lihat saja sms berikut ini. Sms ini dikirimkan dari sahabat saya yang penuh dengan senyuman, dengan keriangan, dengan kebahagiaan. Hidupnya sempurna. Berkecukupan iya, saleh salehah iya. Dua putrinya menempuh pendidikan tinggi dan berkategori aman. Setiap saya ke kota di mana ia tinggal, selalu ia berdiri paling depan di bawah eskalator kedatangan. Nomor satu menyalami saya dan membawakan tas saya. Istrinya selalu ridho melepas suaminya untuk menemani saya jika saya ke kota tersebut dan beralih ke kota-kota lain yang basecampnya di kota dia.
Hingga di kedatangan saya yang terakhir, kira-kira sebulan sebelom saya umroh, beliau di kendaraan minta doa. Dan ia mintakan doa di sore hari, setelah saya sudah mau menuju bandara. Alasannya beliau, “Kalau saya beritahu dari pagi, tentu Ustadz tidak mengizinkan saya pergi menemani Ustadz, dan hilanglah kesempatan saya minta doa dari ustadz dan dapat berkah (baca: pahala) dari perjalanan ustadz mengajar, silaturahim dan memberi tausiyah.”
Sahabat saya ini memberi tahu bahwa istrinya ini mual-mual. Tapi harus dibawa ke rumah sakit. Dalam sakitnya, istrinya ini meminta suaminya tetap menemani ustadz. Masya Allah.
Kami pun mendoakan. Dan doa ini diberitakannya ke istrinya.
Hingga kemudian saya jalan umrah. Sesampainya saya di Madinah, sms masuk lewat sahabatnya beliau, yang dulu juga semobil. Sahabatnya ini mengabarkan bahwa ternyata penyakit yang diderita oleh istrinya sahabat saya tersebut bukan penyakit biasa. Tapi penyakit kanker…
Deeerrr…!!!
Saya mengingat keceriaan keluarga ini. Saya mengingat kebahagiaan keluarga ini. Berita ini seperti palu godam sesaat yang bisa saja melabilkan iman.
Segini sahabat saya ini orang saleh, berkeluarga saleh. Setidaknya menurut pengamatan saya. Bagaimana bila kita-kita ini bukan orang saleh? Bukan orang yang taat sama Allah? Bukan orang yang terbiasa baik sangka sama Allah?
Eh, sorry, dah mau isya. Saya isya-an dulu ya?
Ini sengaja saya kembali dulu ke kamar. Nunggu isya nya sambil ngetik dan ngajar Kuliah Umum ini. Semoga Allah ridho, dan menjadikan apa yang saya kerjakan, menjadi ibadah yang diridho-Nya. Ok, saya isya-an dulu ya. Kembali ke Masjidil Haram. Duh, nikmatnya…
Tar saya ceritakan sedikit deh…
Ga janji. Insya Allah.
Sampe ketemu habis isya nanti, bila Allah mengizinkan.
***
Alhamdulillah, ngetik-ngetik lagi bukan habis isya di waktu isya. Tapi di waktu dhuha. Mudah-mudahan keberkahan dhuha mengalir buat semuanya. Amin.
Di Mekkah kalo habis isya itu rasanya udah malem banget. Ketemu si fulan ketemu si fulanah, ketemu jamaah ini ketemu jamaah itu, ngurus sedikit ini ngurus sedikit itu, eh udah jam 1 pagi. Ya tidur aja dah. Supaya bisa bangun malam. Banyak jamaah yang alhamdulillah dimudahkan bangun malam dan berangkat ke masjid, sekalian menunaikan shalat shubuh berjamaah, bahkan sekalian dhuha. Mungkin selain suasana, juga soal kebersamaan, kesadaran dan niat. Tentu saja semua sabab izin dan ridha Allah.
Oh ya, ini sms dari sahabat saya tersebut… Kecuali nama dan daerahnya yang saya samarkan. Mohon didoakan saja:
Assalamualaikum… Ustad! Saya saat ini di Malaysia mendampingi istri berobat setelah satu bulan sakit di Sumatera. Segala upaya kami lakukan dalam pengobatan yang sesuai tuntunan. Saat ini sudah ditemukan penyakitnya yaitu Multiple Myeloma yaitu kanker plasma sel tulang sumsum yang cukup ganas menghambat pertumbuhan sel darah merah sehingga anemia. Menggerogoti tulang dan calsium dialirkan ke darah sehingga overcalsium yang membuat mual gak bisa makan dan darah jadi kental, menurun fungsi ginjal memunculkan asam urat tinggi, sakit kepala, lemas, tulang sakit pada punggung dsb. Saya sungguh gak tega menyaksikan penderitaan ini. Saya gak kuat kalau mendengar kalau dia saat mengigau saat tidur, berdoa saat ngigau seakan bermain sama dengan kedua putri kami. Saya berharap ini cobaan tapi saya ragu inikah azab Allah? Saya memohon ampun sama Allah. Sejak sholat shubuh air mata ini tak henti mengalir. Ya Allah… Engkau yang mendatangkan penyakit ini… Tariklah penyakit ini. Begitu mudahnya Kau cabut kenikmatan ini… Ustadz! Kami mohon bantuannya memohonkepada Allah di tanah suci agar kesusahan ini berakhir. Agar penyakit ini dihilangkan. Agar istri dan kami sekeluarga diberi kesempatan untuk lebih mengabdi kepada Allah. Agar kelak saatnya nanti husnul khotimah. Terima kasih ustad atas doanya. Wassalamu’alaikum.
Saya termenung baca sms ini. Rasanya saya pengen segera berdiri shalat dua rakaat. Meminta maaf untuk orang-orang tua saya, diri saya, istri saya, anak-anak saya, keluarga saya, jamaah semuanya. Meminta maaf jangan sampai ada kesalahan-kesalahan kami yang berujung azab dari Allah. Pengen rasanya saya meminta perlindungan dari Allah. Termasuk perlindungan dari putus asa, hilang kesabaran, kecewa sama keputusan Allah, dan lain-lain. Sebab tidak mesti juga menjadi jahat lalu dikasih serangkaian penyakit. Tidak mesti. Ini sungguh rahasia Allah sahaja. Bisa saja orang yang teramat saleh, pun diuji dengan serangkaian penyakit.
Duh duh duh… astaghfirullahal ‘adzhiem. Saya sungguh menyarankan saudara semua menghentikan sejenak perkuliahan umum ini, lalu ambil wudhu dan shalat 2 rakaat. Agar sempat dulu memohon agar Allah lindungi dari penyakit yang berat-berat, yang sulit-sulit, baik menimpa diri kita maupun keluarga kita semua. Rajin-rajinlah memohon perlindungan dan keselamatan. Saya berkata kepada istri saya, “Kudu bener rajin memohon dan meminta sehat kepada Allah. Minta supaya sehatnya bisa dibawa ibadah. Dan macem-macem permintaan lain, hingga selamat dari su-ul khatimah, siksa kubur, dan siksa negeri akhir sebagai puncaknya.”
Saudaraku yang dirahmati Allah. Cukup lama saya menjawab sms sahabat saya ini. Tapi saya cepat mendoakan atas izin Allah. Balas smsnya yang lama. Sebab saya tercenung juga cukup lama.
Peristiwa-peristiwa perubahan seperti ini banyak sekali terjadi. Begitu gampang Allah mengubah keadaan. Kun Fayakuun! Allah sanggup mengubah siang jadi malam, dan sebaliknya. Allah sanggup menghidupkan dan mematikan. Allah tentu saja lebih sanggup lagi mengubah keadaan kita. Senang jangan sampe lupa diri lupa ibadah, dan susah jangan sampe putus asa putus semangat.
Karena itu saya menyeru, tempel betul Allah. Tempeeeeeeeeelll yang rapet. Bener-bener rapet. Kita tidak tahu kapan kemudian kita berdoa seperti sahabat kita tadi. Jangan begitu yakin keadaan susah tidak dipergilirkan. Sebagaimana keadaan senang pun akan Allah pergilirkan. Jika kita tidak terlambat mendekatkan diri kita kepada Allah, bisa saja seperti keadaan sahabat saya tadi, Allah hadir di hati dia dan istrinya, dan keluarganya. Allah hadir. Hingga penyakitnya dibawa syukur, dibawa senang. Dan kemudian hanya sebentar air mata sedih yang keluar. Selebihnya hanya air mata bahagia. Senang. Sebab dalam susahnya, dalam deritanya, subhaanallaah, lisan tetap basah dengan zikir, dengan wirid, dan hanya syukur yang memenuhi hati. Ibadah sampe titik nafas yang terakhir. Subhaanallaah.
Bila saat ini Saudara menemukan diri Saudara lalai, diri Saudara lupa, diri Saudara jauh dari Allah, bagaimana lagi dengan Saudara…? Bekal tak ada ketika kemudian peristiwa demi peristiwa terjadi…? Na’udzubillaah min dzaalik.
Tidak ada kata terlambat. Tidak ada kata terlambat. Tidak ada kata terlambat. Asal Allah kasih kita nafas, itu tanda kita masih bisa kembali kepada Allah.
Saya kemudian menjawab sms sahabat saya tadi:
Saya sekitar 1 jam yang lalu sempet ngebel dari tanah suci. Dari Mekkah al Mukarromah. Di Multazam saya doakan. Semoga dalam sakit dan penderitaannya istri dan antum, ada Allah. Sehingga Allah memberikan rasa sabar yang luar biasa. Saya meneteskan air mata baca sms saudara saya ini. Saya bercerita kepada Allah, saudara saya ini selalu menjemput saya tatkala saya ke Sumatera, dan istrinya selalu ridho. Dan banyak lagi saya cerita, termasuk ketika harus masuk rumah sakit (pertama kali, ketika saya datang), istrinya tetap ridho suaminya mengantar saya ke kota lain. Yaa Allah, mudah-mudahan Engkau Yang Maha Segalanya, memberikan mukjizat-Mu, kebesaran-Mu, serta kekuasaan-Mu di urusan istri antum dan antum.. Istri saya dan jamaah semuanya turut mendoakan. Lebih kurang 500 jamaah turut mendoakan antum. Saya mintakan doanya. Nanti saya kirimkan petunjuk tambahan. Semoga Allah mempercepat penyembuhannya dan menghentikan jalannya itu penyakit.
Beberapa waktu kemudian beliau menjawab lagi sms saya:
Subhaanallaah… Begitu cepatnya Allah mengijabah doa Ustadz dan jamaah lainnya. Sehingga dokterpun begitu cepat dan tepat memberi dosis obat sehingga hari ini istri saya merasakan betapa nyamannya yang tidak pernah senyaman ini sejak sakitnya. Dokterpun begitu gembiranya mendengar dan melihat pasiennya dengan begitu cepat pulihnya. Saya dan istri mendengar ibu Ivan (kawan mereka) membacakan sms dari ustadz tak tahan kami menangis haru. Sungguh begitu mudahnya bagi Allah merobah keadaan hanya kami yang masih kurang bersyukur. Entah bagaimana caranya kami mengucapkan terima kasih kepada ustadz berserta jamaah. Salam kami, terus berharap doa untuk mengiringi kami melawan ganasnya penyakit ini. Syukran. Wassalamu’alaikum.
***
Dengan ragam peristiwa lainnya, manusia sejatinya akan dipergilirkan kesusahan dan kesenangan sebagai ujian hidup. Mudah-mudahan kita semua lulus. Apa kaitannya dengan Kuliah Tauhid? Selain kita nanti belajar untuk baik sangka, untuk iman kepada Allah, untuk sabar, untuk yakin, untuk ikhlas, untuk syukur, kita pun insya Allah memohon kepada Allah agar perkuliahan tauhid nanti akan mengajarkan kita pola hidup yang bagus. Dinamika hidup ini bolehlah berlaku apa saja. Satu hal yang tidak boleh berubah dalah tuhan kita. Harus tetap Allah. Harus tetap bersama Allah. Harus tetap dekat sama Allah. Dan harus tetap ibadah dan mengabdi pada-Nya.
Saya menyertakan file audio sebagai penyerta kuliah umum ini. Mudah-mudahan melengkapi kuliah umum ini, dan menyiapkan Saudara-Saudara untuk mengikuti perkuliahan Kuliah Tauhid, sesi demi sesinya. Amin.
Saya berdoa kepada Allah, suatu saat Saudara dan saya, kita semua, bisa melakukan ibadah karena bersyukur kepada Allah.
Jika sebelomnya Saudara shalat dhuha memohon ridha Allah dan pekerjaan dari-Nya, saudara lalu naik derajat shalat dhuha sebab Saudara justru bersyukur sudah diterima kerja.
Jika sebelomnya saudara shalat malam sebab ada kesusahan, kemudian hari saudara bisa shalat malam karena lapor masalah sudah selesai. Jika sebelomnya saudara bersedekah sebab ada permintaan, maka permintaan berikutnya dari saudara kepada Allah adalah minta dikuatkan iman islam, minta dijadikan saleh dan syukur, dan minta diberikan ridha.
Hingga kemudian tumbuh kecintaan kepada-Nya, dan kerelaan beribadah kepada-Nya. Tumbuh keridhaaan kepada Allah, yang kemudian Allah pun jadi ridha kepada kita. Dikasih susah, tetap ridha. Dikasih senang, ya apalagi. Yang ada hanya syukur, syukur, dan syukur. Ga ada pertanyaan, dan ga ada keluhan. Tumbuh baik sangka kepada Allah. Terhadap semua kalam Allah, terhadap semua Ketentuan dan Kehendak Allah.
Terhadap semua perintah Allah, terhadap semua permintaan Allah, iman dan yakinnya bukan main. Ga pake mikir.
Disuruh sedekah, jangankan dijanjikan ada bayarannya, engga dijanjikan bayaran saja, udah rela minta ampun. Apalagi dijanjikan bayaran.
Disuruh shalat malem untuk kemuliaan, untuk ketinggian derajat, untuk mengundang pertolongan Allah, untuk perubahan kehidupan, kita menyambutnya dengan segenap perasaan senang kita. Bukan hanya bakal senang dapet segala apa yang bisa Allah berikan. Tapi senang sebab bisa ketemu Allah di keheningan.
Setelah shalat shubuh, rindu shalat dhuha. Setelah shalat dhuha, rindu shalat zuhur. Setelah shalat zuhur, rindu shalat ashar. Setelah shalat ashar, rindu shalat maghrib. Setelah shalat maghrib, rindu shalat isya. Setelah shalat isya, rindu lagi shalat malam. Rinduuuuuu… Pengennya sama Allah terus. Karena itu ketika sedang shalat, disertakan qobliyah dan ba’diyah. Ga pengen cepet-cepet berlalu dari hadapan Allah. Allah tempat mengadu, Allah tempat meminta.
Sama al Qur’an dekeeeettt. Ia senantiasa dibaca, dikaji, dan satu demi satu diamalkan. Sama masjid, ringan kaki melangkah. Khususnya laki-laki. Yang perempuan tentu saja biar di rumah, walo ke masjid juga tidak ada halangan andai tidak timbul fitnah dan bahaya. Rajinnya ke masjid, ringannya kaki melangkah ke masjid, sampe-sampe kekangenan bersimpuh di masjid besar, di “rumah-Nya”, di Masjidil Haram, di depan Ka’bah, juga akhirnya semakin besar… Dan tau-tau nyampe dah di sana. Subhaanallaah.
Sama orang susah, sama anak-anak yatim, sama dhuafa/orang-orang miskin, perlu. Kita yang perlu. Kita yang nyari. Baik dibantu dengan rizki kita, maupun dibantu untuk tidak lagi miskin dan susah, dan menjadi berdaya. Lewat serangkaian pengajaran, dan nasihat.
Sama larangan-larangan Allah, takutnya minta main. Setiap pikiran berbuat dosa dan maksiat muncul, dibanyakin ta’awwudz, berdoa, dan istighfar. Tidak pernah memberi kesempatan melayani.
Saya betul-betul berdoa semua perasaan ini, semua yang dikatakan ini,tumbuh di hati dan pikiran Saudara semua. Semoga KuliahOnline ini bisa mengantarkan Saudara semua menuju apa yang menjadi doa saya tadi. Aamiin. Semua atas izin Allah, dan semua adalah Kehendak Allah. Maka itu insya Allah saya akan shalat sunnah, minta kepada Allah agar itu terjadi. Saya harap Saudara semua juga mau meminta taufik dan hidayah Allah. Sekali lagi, aamiin.
Semoga Allah memberikan kemuliaan buat Saudara semua.
Sungguh… Saya kepengen memberikan banyak materi. Tapi nanti jadinya bukan kuliah umum, he he he.
Materi demi materi sudah disiapkan atas izin Allah. Pelajari satu demi satu, yang rajin, yang rapih, yang disiplin. Jangan hanya dibaca, apalagi dikoleksi. Jangan. Bener-bener pelajari. Hayati. Dan renungkan. Disertakan pula tugas kecil sedari awal untuk menelaah satu demi satu ayat yang saya pakaikan di kuliah umum ini. Lihatlah al Qur’an, dan carilah terjemahannya untuk lebih memahami minimal menyimak artinya. Bergurulah pada satu dua orang ustadz yang ada di deket saudara untuk berdiskusi perihal ayat demi ayat yang saya minta saudara mencari, membuka, dan membacanya.
Kepada Allah semua saya pulangkan.
Di file audio penyerta kuliah umum ini, saya membahas juga pendalaman tentang mengubah pola pikir, dan pola ikhtiar. Silahkan. Ada contoh-contoh menarik seseorang yang mencari bantuan seseorang. Seorang kaka yang datang kepada adiknya. Seorang yang membroadcast sms jual mobilnya, hingga ketemu Allah dan menawarkan mobilnya kepada Allah. Seseorang yang mencari pekerjaan dengan cara yang normal, tapi jadi ibadah dan hasilnya mengagumkan! Yakni ga dapet-dapet itu pekerjaan yang dicarinya, he he he. Tapi koq disebut mengagumkan? Ada lagi seseorang yang berusaha membayar hutangnya, tapi yang terjadi malahan bertambah penyakit, bertambah hancur, bertambah susah. Namun imannya dan ibadahnya malahannya bertambah. Di kemudian hari huutangnya bener-bener buanyak. Tapi rizki sekali datengnya dirapel Allah, puluhan kali lebih lipat lagi ketimbang hutangnya. Masya Allah. Seru.
Ada juga perjalanan berburu jodoh, perjalanan mendapatkan anak keturunan, Perjalanan mencari kesembuhan. Dan macem-macem lagi yang Saudara akan temukan yang dekat kehidupan Saudara sehari-hari. Insya Allah.
Semua karena Allah, dan karenanya, sekali lagi saya pulangkan kepada Allah segala sesuatunya.
Saya memohon maaf kepada Saudara semua, jika ditemukan di kemudian hari ketidaknyamanan dalam mengikuti perkuliahan ini. Atas nama pribadi dan atas nama tim, saya memohon maafnya. Saya berharap penuh Saudara banyak mengikuti kajian kuliah off-line nya, di tempat-tempat yang sudah ditentukan oleh kami. Untuk pendalaman materi dan pengembangannya, serta diskusi. Belajar mengenal Allah lebih jauh. Kita sama-sama belajar ya. Saya, Yusuf Mansur, pun tumbuh bersama Saudara semua dalam belajar tauhid dan keyakinan. Di perjalanan KuliahOnline, untuk kopi daratnya para peserta KuliahOnline kami menyebutnya: Spiritual Gathering Wisatahati.
Sampe ketemu di Sesi 1 nanti, di Kuliah: Belajar Keyakinan.
Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.
Makkah & Madinah, 2011.
Yusuf Mansur.
You will learn this in your lovely KuliahOnline…
Bicaralah kepada Allah…
Sesering mungkin…
Bahkan untuk hal yang sepele…
Sebelom… Di… Dan sesudah…
Untuk agenda OfflineClass Kuliah Wisatahati…
Agenda kopi darat, tatap muka, dan diskusi…
Klik www.wisatahati.com.
Carilah tempat terdekat dengan Anda… insya-Allah ada kawan-kawan Saudara semua, sahabat-sahabat Saudara semua, yang siap membantu Anda berdiskusi lebih lanjut untuk pemahaman yang lebih baik, dan berbagi ilmu dan pengalaman. Ga usah nyari Yusuf Mansur yaaa… He he he.
Just visit www.wisatahati.com…
Come and join us…
let’s discuss, and talk…
about problem, about life










assallamu’alaikum ustadz…….sudah lama saya hidup meninggalkan Allah.setelah saya membaca buku karya ustadz ”Mencari Tuhan yang hilang” dan menyimak thausyiah diinternet tergugah hati saya untuk kembali kejalanya.terima kasih atas thausyiahnya semoga Allah membalas semua kebaikan ustadz.
Wass, alhamdulillah. Maaf, saya bukan lah ustadz namun sebagai penyambung lidah untuk memberi yang terbaik…