Allah Sebagai Pusat
Orang-orang yang mengenal Allah dan meyakini-Nya, insya Allah akan tenang hidupnya, jauh dari kekhawatiran, jauh dari kegelisahan.
Semoga ketika Saudara semua belajar sesi yang telah lalu, Saudara sudah langsung memulai perjalanan 40 hari memelihara shalat berjamaah di masjid, tepat waktu, dan 40 hari berzikir dengan zikir yang disertakan kemaren. Jika Saudara memperhatikan dengan baik, di mana saya mengatakan, “Sebaiknya zikir ba’da shalat yang diajarkan Rasulullah, juga dibaca”, maka Saudara juga secara tidak langsung membaca juga secara disiplin zikir ba’da shalat selama 40 hari.
Semoga aja ya. Tambah lagi saya berdoa, agar Saudara bisa kemudian tidak meninggalkan kebiasaan ini setelah 40 hari selesai.
Saya memperhatikan belom apa-apa Saudara sudah ada yang mengatakan bid’ah. He he he, biar saja. Bukan tempatnya di sini membahas tentang apakah sesuatu amalan dikatakan bid’ah dan tidak. Insya Allah saya teramat berhasrat membahas secara komprehensif, dengan melibatkan para PAKAR di bidangnya. Di Kanal Kuliah 40 Hari Menjadi Kaya, dan di banyak sebaran kuliah, saya bahas pelan-pelan, namun belom komprehensif. Insya Allah akan dicoba digelar kanal khusus deh. Insya Allah. Saya teramat menghindari perdebatan yang akhirnya menguras tenaga dan pikiran hanya untuk saling menyodorkan dalil. Wong landasan berpikir, cara berpikir, di menentukan sesuatu bid’ah atau tidak udah beda, ya seringnya memang ga ketemu. Ga ada yang mau dikatakan salah, semuanya benar. Termasuk saya, he he he. Saya menghormati siapa saja yang mau memurnikan ajaran Islam, namun teramat menyayangkan bila terlampau simpel mengambil dasar hukum hingga banyak hal kemudian menjadi bid’ah dan dianggap sesat. Termasuk soal “Riyadhah 40 hari”, soal penetapan angka 40 hari. Di mana disebut bahwa Rasulullah tidak pernah melakukannya. Saya melakukan fiqhud-dakwah. Saya mencoba mendorong Saudara semua untuk masuk ke gerbang iman, keyakinan, dan mulai mau memperbaiki ibadah.
Sementara itu, saya ingin mengatakan, bahwa saya ketika menulis KuliahOnline ini, sudah silaturahim dan bertukar pikiran dengan banyak kyai-kyai yang saya pandang ahli di bidang al Qur’an dan hadits. Mudah-mudahan yang saya ajarkan dan yang Saudara pelajari dan ikuti, bukan sesuatu yang sesat.
Insya Allah ya. Doain, supaya ada kesempatan ngumpulin para pakar untuk bicara tentang bid’ah dan tidaknya satu amalan.
Ok, kita kembali lagi dengan seruan saya, untuk Saudara-Saudara semua nge-track di perjalanan 40 hari memperbaiki ibadah.
Pengalaman saya pribadi, ketika nge-track perjalanan tersebut, saya malah asyik mikirin ibadah dan ibadah. Sampe-sampe lupa mikirin masalah, he he he.
Tentu saja it’s only joking. Mikirin ya tentu saja mikirin. Hanya saya lebih memilih relax. Saya pilih mikirin ashar ketika di waktu zuhur. Ashar di mana niy? Gitu. Jangan sampe ashar masih di jalan, ga ke masjid, ga nyantai, terburu-buru. Saya memprogram ulang diri saya, badan saya, pikiran saya, hati saya, hingga kemudian saya mendapati pikiran saya jauh dari stress ketika stress. Sebab yang lebih banyak diingat adalah Allah. Saya tidak memakai kalimat “hanya ingat Allah”. Sebab betapapun kita-kita ini manusia. Ya kalo ditimpa masalah, mestilah masalah itu membebani pikiran. Nah, dengan membuat diri kita sibuk dan banyak mikirin Allah, mikirin ibadah, maka insya Allah porsi mikirin masalah jadi tinggal sedikit. Atau malah sama sekali udah ga mikirin. Dibebasin aja. Diterimain aja.
Nah, jika sebelomnya saya atas izin Allah mengajak Saudara untuk 40 hari shalat berjamaah di masjid, atau minimal shalat tepat waktu buat yang perempuan, maka insya Allah di awal materi ini, saya mudah-mudahan bisa mengajak Saudara semua untuk memulai bangun malam, untuk menegakkan shalat malam (tahajjud). Amin. Dan semoga perkuliahan tauhid ini bukan hanya sekedar teori, melainkan ada perubahan yang kita usahakan untuk sama-sama berubah. Amin ya Rabb…
***
Ada sepasang suami istri datang. Mereka minjam mobil tetangga. Namun saat mereka pinjam, mobil itu hilang. Dan itu meninggalkan masalah mestinya. Tetangganya minta ganti mobil tersebut. Untuk mengganti sebesar 130jt atau mobil sejenis, bagi pasangan suami istri ini tidak mudah. Mobil tetangganya ini udah dilengkapi alarm, udah dilengkapi GPS. Dan tidak ada asuransinya. Masalah menjadi jadi sebab tetangga ini jadi orang kalap. Ia melaporkan ke polisi sebagai perbuatan yang menyengaja mobil ini menjadi hilang dan tuduhan macem-macem.
Saya terus terang belajar dari kisah ini. Saya yang mengajarkan tauhid, malah belajar dari mereka. Mereka begitu tenang.
Pertama, mereka sadari ini Kehendak Allah. Apakah Allah hendak menyusahkan mereka? Mereka menjawab, tidak. Allah pasti menghendaki yang baik-baik. Siapa yang mengizinkan mobil tetangga itu mereka pinjam? Allah. Siapa yang menghendaki mobil itu hilang ketika dipakai? Pinjem lagi. Tentu tidak ada. Tapi mengapa terjadi? Semua terjadi sebab Kehendak-Nya. Sebab Izin-Nya. Mereka tanda tangani surat pernyataan bakal mengganti dengan penuh ketenangan. Luar biasa.
Ketika ditanya kenapa bisa tenang? Mereka bilang, hanya dengan mengingat Allah, hati jadi tenang. Dari kisah suami istri ini saya malah belajar lagi rangkaian ayat-ayat yang insya Allah saya hafal:
Allah meluaskan rizki dan menyempitkannya bagi siapa yang DIA kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia itu dibanding dengan kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan yang sedikit. (ar Ra’du: 26).
Suami istri ini berkisah, mereka menganggap ini adalah pelajaran iman. Pelajaran tauhid. Bukan masalah. Bukan persoalan. Tapi berkah. Siapa yang beruntung selain yang mendapatkan pelajaran dari Allah dan Allah yang langsung mengajarnya?
Luar biasa…
Saya “diajarinya”. Diajari beliau-beliau ini, he he he. Jarang-jarang kan ada yang konseling malah diajarin sama yang konseling? He he he. Kalo saya mah ya sering. Caranya, ya biarkan aja yang datang mengadu ini bercerita sendiri tentang masalahnya. Insya Allah dengan demikian saja sudah jadi pelajaran buat saya. Ya, setiap masalah yang datang, adalah pelajaran buat saya. Insya Allah.
Apapun yang terjadi, bagi suami istri ini adalah kehendak Allah. Mereka senang, mereka susah, sepenuh-penuhnya bukan urusan manusia. Tapi urusan Allah.
Dan saya membenarkan. Banyak orang yang gagal mendapatkan sesuatu, gagal mengerjakan sesuatu, gagal mencapai sesuatu, atau sebaliknya, lalu tiba-tiba saja mereka mempersekutukan Allah.
Paham ga?
Engga ya?
He he he, nuduh ya?
Gini… Ada orang udah ngumpulin duit sampe 80jt. Niatannya mau pergi haji. Tapi kemudian anaknya ada keperluan mendesak. Dia harus cairkan uang itu tapi buat urusan anaknya. Bukan urusan hajinya. Kalau keluar omongan: “Mestinya saya pergi haji tahun depan, udah daftar, dan bisa langsung lunas. Tapi ada-ada aja. Gara-gara anak saya, akhirnya saya gagal deh berhaji.”
Tipis sih. Mungkin kita juga ga ada maksud mempersekutukan Allah. Namun kualitas pembicaraan sungguh akan mempengaruhi kualitas hati. Segitu urusannya urusan anak sendiri. Kalo orang lain yang ngembat, wuah akan lebih sengit lagi ngomongnya.
Ada yang udah mempersiapkan biaya S2. Tapi iparnya datang. Butuh duit. Sedang duit persiapan S2 belom lagi dipake. “Silahkan dipake, tapi jangan sampe Desember besok ya mulanginnya. Mau dipake buat pendidikan si abang S2.” Begitu kata istri ini mengingatkan. Tapi kemudian sampe 2th dari perjanjian yang hanya 1-2bl saja, duit itu ga kunjung dikembalikan. Nah, tuhannya siapa tuh kalo begini? Banyak yang kemudian tidak nerima, dan kemudian segalanya jadi berantakan. Harusnya kan yang berantakan kalopun harus berantakan adalah S2 nya saja. Ga ngembet ke kehidupan yang lain. Suami istri ini menyalahkan keadaan, menyalahkan si pemakai duit. Kalo engga dipake, tentu udah selesai S2. Dan akan semakin bertambah tuhannya. “Kalo S2, kan bisa naik pangkat, naik karir. Kebetulan ada promosi di kantornya suami,” keluh istrinya. Wuah, bener-bener semakin banyak tuhannya. Emangnya ada yang bisa mendatangkan manfaat dan menolaknya, selain Allah? Apa bener kalau duit ada, pasti bisa S2 nya? Apa bener kalau bisa S2 lalu bisa naik pangkat? Dan apa bener juga kalau ga ada duit ga bisa S2? Dan apa bener kalau ga S2 ga bisa ikut promosi? Emang siapa yang bisa ngizinin S2 dan tidak? Siapa juga yang bisa ngizinin seseorang naik pangkat, turun, atau malahan dipecat?
Kebaikan baik sangka kepada Allah, akan membuat ketenangan juga akan semakin hebat. Seperti yang dialami suami istri yang ketempuan harus mengganti mobil yang hilang.
Apakah sudah lapor polisi? Sebagai ikhtiar, sudah.
Kembali lagi ke suami istri ini. Mereka kemudian tanda tangan aja. Dengan entengnya mereka mengembalikan kepada Allah. “Asalnya masalah ini adalah Allah. Jadi ya dikembalikan saja lagi kepada Allah.”
Tapi darimana menggantinya?
Mereka ga mikirin. Mereka mau mikirin Allah aja. “Bisa stres kalo mikirin masalah.”
Bener. Tapi stres ga?
He he he, sebenernya suami istri ini stres juga. Tapi mereka mau melawan. Ketika di depan saya, mereka menangis. Terasa sekali ada perlawanan untuk tidak stres, untuk tetap tenang, untuk tetap yakin akan pertolongan Allah.
Semua kejadian di masa depan dan yang sudah kita lalui, siapa yang perkasa untuk mendapatkan dan menghindarinya? Tidak ada. Sekuat apapun kita tidak akan bisa menolak. Selemah apapun kita, sebaliknya tidak mesti harus tertabrak masalah.
Suami istri ini memposisikan sebagai yang lemah. Allah yang Maha Kuat. Seberapapun mereka menghindari kejadian ini, hanya akan menambah lemah dan lemah, sakit dan sakit. Akhirnya yang ada hanya sesal nantinya. “Coba dulu ga usah pergi, kan ga usah pinjem mobil. Coba dulu ga usah pengen enak, pake angkot aja. Pake taxi dah. Kan ga perlu harus kehilangan mobil…”. Makin dicari kalimat-kalimat seperti ini, makin semakin banyak faktor pembuat tidak tenang, gusar, gelisah, dan sempit hati. “Coba tuh mobil ada asuransinya, kan ga repot…”. Percayalah, pikiran kita akan memberikan kontribusi negatif lebih banyak lagi: “Mana hanya pegawai rendahan… Darimana ganti mobilnya…”. Lah kan, makin terus saja? Emangnya kalo pegawai rendahan ga bakalan bisa ngembaliin mobil yang hilang?
Maka saya kagum. Harusnya kita juga begitu. Mau menjadikan Allah pusat segala-galanya. Termasuk pusat segala keberhasilan, kesaksesan, kejayaan, kemenangan, kebahagiaan. Barangkali sebab itu kita kudu bismillah dan alhamdulillah. Agar dari awal sampe akhir, tetap bersama Allah dan mengingat Allah. Dan di tengah-tengahnya ada keharusan menjaga yang wajib dan menghidupkan yang sunnah. Agar setiap saat bersama Allah.
Dari ayat 26 Surah ar Ra’du di atas, saya cuplikan lagi yaaa… :
Allah meluaskan rizki dan menyempitkannya bagi siapa yang DIA kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia itu dibanding dengan kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan yang sedikit. (ar Ra’du: 26).
Dari kisah suami istri yang kehilangan mobil ini, mereka menganggap bahwa kesulitan dunia mah ga ada seberapanya dibanding dengan kesulitan hari akhir. Sebagaimana kesenangan dunia yang disebut Allah sebagai ga seberapanya dibanding kesenangan hari akhir. Mereka mencoba meyakini bahwa kasus kehilangan mobilnya ini barangkali akumulasi perbuatan buruknya yang berwujud mobil ini. Bisa jadi ada kesalahan di tempat yang lain, lalu berbuah kesulitan ini.
Boleh saja Saudara ga setuju. Saya berharap peserta Kuliah Online sudah mengikuti sesi 10 Dosa Besar dengan lengkap sehingga mengerti pendapat seperti ini.
Bila tidak ada kesalahan, suami istri ini tetap menghibur diri bahwa Allah sedang menghendaki sesuatu terhadap mereka. Bisa jadi ini adalah awal dari ketemunya penghasilan baru dari pekerjaan baru. Kalo ga ada masalah, tidak akan ada lompatan… Pokoknya, kalau ga Allah kehendaki pertobatan, tentu Allah menghendaki kebaikan. Persis kira-kira sebagian maksud dari ayat 27-nya, lanjutan ayat tersebut di atas:
Orang-orang kafir berkata: Mengapa tidak diturunkan kepada Muhammad tanda mukjizat dari Tuhannya? Katakanlah sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang DIA kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertobat kepada-Nya.” (ar Ra’du: 27).
Persoalan hidup, permasalahan hidup, adalah mukjizat juga dari Allah buat mereka-mereka yang mengalaminya. Kelak banyak yang bisa berhasil sebab melewati berbagai kesulitan dan persoalan hidup. Lebih berhasil, lebih terang, dari sebelom punya masalah. Suami istri ini mau menjadi yang demikian. Dan mereka bersyukur, bahwa persoalannya membawa mereka bisa meneliti kesalahan-kesalahannya kepada Allah dan kepada sesamanya. Persoalan mereka pun akhirnya disyukuri sebagai membawa ibadah yang lebih baik bagi keduanya, dan sudah menjadikan mereka menjadi lebih arif lagi bahwa bisa apa manusia kalau Allah sudah berkehendak.
Ada yang bilang di antara Onliners, kenapa suami istri ini ga melakukan perlawanan? Kan bisa lapor balik, dengan pasal-pasal yang bisa dicarikan. Atau bertahan melewati berbagai pengadilan dan proses pengadilan?
Kita pun harus menghormati pilihan suami istri ini yang memilih ga memperpanjang. Diperpendek dengan memperpanjang urusan dengan Allah saja.
Lihat ayat 28 dan 29 nya…
Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tentram.
Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik. (ar Ra’du: 28-29).
Fokusnya suami istri ini ke Allah. Ke ibadah. Bukan ke masalahnya. Dan insya Allah dengan begini ia menjadi tenang. Dan Saudara yang ga setuju, jangan berkernyit dulu. Ga apa-apa ga setuju, sebab ga harus setuju. Namun perlu diketahui, bahwa selesainya masalah, bisa juga berawal dari ketenangan. Tanpa ketenangan, yang ada kepanikan. Dan kepanikan akan menambah banyak masalah. Dengan mendekatkan diri kepada Allah, sesungguhnya membantu “pihak lawan” juga, agar si suami istri ini justru bisa bayar dan mengembalikan mobil yang dikerja hilang.
Dalam satu kesempatan beraudiensi dengan pemilik dan pengelola bank, saya menyarankan untuk mengadakan banyak kegiatan-kegiatan keagamaan dan pengajaran akan Allah dan Rasul-Nya. Buat siapa? Buat mereka-mereka nasabah yang ga bisa bayar pinjemannya ke bank. Ajarkan mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kenalkan mereka kepada keajaiban Pertolongan Allah. Selanjutnya bersisian dengan mereka yang ga bisa bayar dalam upaya mendekatkan diri ke Allah. Insya Allah bisa dikurangi dah tuh angka hutang yang tak bisa dibayar. Cara ini boleh jadi disangka bukan cara yang lazim. Tapi ya beginilah Yusuf Mansur. Mau kemana lagi kita mencari pertolongan? Kalau bukan ke Allah. Sepenuh-penuhnya Kuliah Tauhid sepanjang perkuliahan mengupas soal ini.
Suami istri tersebut di atas, menyerahkan motornya untuk sedekah. Dia berharap pintu rizki akan terbuka, sekaligus sebagai permohonan pertaubatan dengan sedekahnya mereka ini. Plus berharap agar Allah memberikan pertolongan-Nya.
Motor ini saya terima, dan lalu saya berikan lagi kepada mereka. “Jual-lah motor ini. Dan gunakan sendiri untuk mendirikan rumah tahfidz… Selain menyibukkan diri dengan ibadah-ibadah seperti biasanya, sibukkan diri juga dengan belajar dan mengajarkan al Qur’an. Ini juga ibadah yang hebat.”
Lalu saya jelaskan panjang kali lebar tentang rumah tahfidz, tapi secukupnya. He he he, ada ya panjang kali lebar tapi secukupnya?
Ya ada. Ini yang saya jelaskan kepada mereka.
Terlampir juga di Sesi Kuliah Tauhid ini buku-buku dan CD/DVD yang Saudara harus miliki. Buku-buku tentang rumah tahfidz dan CD-CD/DVD-DVD yang berkaitan dengan rumah tahfidz. Mudah-mudahan Saudara pun mau mempelajarinya dan bersama-sama menyiarkan al Qur’an di lingkungan masing-masing, khususnya buat diri sendiri dan keluarga.
Saya belom tau terusan cerita suami istri ini bagaimana. Masih berlangsung. Suami istri ini baru datang sepekan sebelom ramadhan 1432H datang. Dan datang lagi silaturahim dengan kawan-kawan di pesantren, termasuk ke istri saya di awal Ramadhannya. Cerita selanjutnya belom tahu.
Bila ada kawan-kawan yang mau konseling, saran saya, ikutin saja KuliahOnline ini dengan tenang dan sempurna, dan berburu saja buku-buku saya dan CD/DVD. Pelajari saja. Lewat media buku-buku dan CD/DVD, insya Allah Yusuf Mansur lebih puanjang dan lebih luebar lagi dalam berbicara dan menjelaskan. Jika pun tetap pengen datang ke pesantren, silahkan berusaha nemuin Allah. Jangan nemuin saya, he he he. Temuin ustadz-ustadz di sana, dan bicaralah dengan siapa ustadz yang ditemui di pesantren Daarul Qur’an Internasional – Ketapang. Cukupkan diri dengan ini semua. Jangan ngarepin ketemu Yusuf Mansur. Susah, he he he. Oke yah? Ga pa-pa koq datang ke pesantren, sambil bawa anak-anak dan keluarga. Namun bener-bener saya kasih tau, niatnya jangan pengen ketemu Yusuf Mansur. Tar banyak kecewanya.
Saya berdoa untuk Suadara semua. Mudah-mudahan sedang tidak punya masalah. Dan andaipun punya, atau pun suatu saat bakal punya, sebagai sesuatu yang sifatnya memang sunnatullah pasti akan bergilirnya, Saudara memiliki bekal ilmu dan iman yang sangat cukup. Amin.
***
Di sesi ini pun saya masih ingin bersama Saudara semua. Saya masih pengen mengisahkan kisah pembelajaran tauhid yang lain. Kisah tentang Bu Yuyun, sebut saja begitu. Ibu ini punya anak semata wayang yang ia besarkan tanpa suami. Sejak putranya ini masuk SMA kelas 1, suaminya meninggal. Dari hari ke hari ia kuatkan batinnya bahwa ia TIDAK SENDIRIAN dalam membesarkan anaknya. Ia bersama Allah. ALLAH SELALU MENEMANINYA. Ini yang ia yakini. Saban shalat ia berdoa agar diberi kemampuan membesarkan anaknya dan memiliki rizki yang cukup. Ya, bener loh. Hampir saban shalat ia berdoa.
Saya banyak belajar dari Bu Yuyun ini. Ketika banyak orang gelisah, ia hidup tenang. Sebab ada Allah di hatinya, ada Allah di pikirannya. Ketika banyak orang ketakutan dan risau dengan dunianya, ia tenang-tenang saja. Persis seperti meja, yang begitu tenang sebab memiliki empat kaki yang kuat yang menopang keberadaannya. Hidupnya begitu santai. Dan ini yang menjadikannya lebih kaya ketimbang orang yang kaya tapi hidup selalu penuh dengan kekurangan.
Sebagai ikhtiar dunianya, ia membuka jahitan rumahan. Ia bertutur, selalu ada saja pelanggan di saat yang tepat ia membutuhkan rizki. Sudah diatur Allah, begitu katanya.
Sejauh ini, aman-aman saja.
Sampe kemudian anaknya ini pergi hari itu untuk melihat kelulusannya; masuk atau tidak ia ke perguruan tinggi yang ia idam-idamkan.
Bu Yuyun berdebar-debar. Ia tahu, kalau anaknya lulus, ini masalah buat dirinya. Kalau anaknya tidak lulus, pun masalah buat dirinya juga. Tentu saja ia senang dapat masalah dalam bentuk anaknya lulus. Masalahnya tentu saja apalagi kalau bukan uang kuliah anaknya. Tapi segera ia banting sesuai dengan pengalamannya selama ini. Ada Allah Yang Maha Memberi Rizki. Dan ini yang membuatnya tenang.
Ia kenal dengan Allah, bahwa Allah selama ini senantiasa mencukupkan rizki buat dirinya dan anaknya.
Ia tahu bahwa Allah Maha Tahu bahwa ia sedang membesarkan anaknya. Dan Allah pun tahu bahwa hari ini akan ada khabar tentang nasib anaknya. Kondisi ini sudah ia sampaikan ke Allah jauh-jauh hari, bahwa ia butuh biaya buat anaknya lulus. Dia yakin, Allah pasti akan memenuhi kebutuhan anaknya, dan atau memberikan yang terbaik. Ia malah bersemangat sekali untuk menambah kedekatan dirinya dengan Allah. Sekali lagi, ini yang membuatnya tenang.
Dan memang Allah Maha Mengatur. Sehari setelah anaknya dinyatakan lulus, Allah kirimkan paman anaknya ini, alias adik almarhum suaminya. Hari itu, beliau berkunjung silaturahim. Dan Allah alirkan rizki untuk anaknya, lewat pamannya ini. Bukan hanya untuk uang masuk kuliahnya saja, tapi juga untuk biaya kuliah secara keseluruhan.
Semoga saya — dan kita semua — bisa belajar lebih banyak lagi dari Bu Yuyun ini.
***
I’m coming ya Allah. Saya datang kepada-Mu ya Allah. Semestinya, dengan banyaknya masalah dan hajat saya, saya harusnya lebih bersemangat lagi dan tanpa lelah mendatangi-Mu dan memohon pada-Mu.
Bolehlah dibilang bahwa hidup ini harus punya keyakinan terhadap Yang Kuasa. Tanpa ini, akan lemah sekali kita menjalani hidup ini. Dan untuk memiliki keyakinan, buka diri buka hati untuk menerima ilmu dan pengajaran tentang keyakinan. Kita sama-sama meminta kepada Allah agar Allah betul-betul membukakan mata hati kita bukan saja untuk mengenal-Nya, tapi juga untuk meyakini-Nya; yakin akan Kebesaran-Nya, yakin akan Kekuasaan-Nya. Kita butuh Allah. Dan senantiasa akan selalu butuh Allah. Maka bertuhanlah Allah. Sebener-benernya pertuhanan. Supaya Allah betul-betul menjaga kita, menolong kita, dan menyediakan apa-apa yang kita perlukan yang kita butuhkan. Jangan sampai kita hidup seperti tidak punya Allah. Allah Maha Memberi Rizki, tapi hidup kita susah. Allah Maha Menolong, tapi setiap ada hajat dan masalah, selalu merasa mentok. Kalo bahasa saya mah, Allah dianggurin. Alias “dibikin nganggur’, sebab jarang kita deketin, jarang kita mintakan bantuan-Nya.
Untuk sebagian Saudara yang sedang merasa aman-aman saja, hidupnya sedang baik-baik saja, tetap saja harus bersemangat mendatangi Allah, tanpa lelah, tanpa bosan, dan terus menambah ilmu di urusan-urusan ibadah dan pengetahuan agama. Minimal yang menyangkut ibadah keseharian. Banyak-banyak beli buku, dan ikut kajian-kajian agama. Allah yang menjaga kita ketika kita tidur dan terjaga. Allah yang memberi segala apa yang kita butuhkan dan yang tidak kita butuhkan, hanya karena kita tidak mengerti bahwa yang kita tidak butuhkan pun adalah hal yang kita butuhkan. Allah menyediakan alam ini dan segala isinya, yang saling kait mengait untuk keperluan semua ummat manusia termasuk kita. Lihatlah diri kita. Bagaimana Allah membangun sistem kesehatan, sistem kekebalan tubuh, sistem pernafasan, sistem pencernaan, panca indera, dan lain-lain keajaiban dari diri kita. Kelewatan bila kita tidak berterima kasih kepada Allah, pemilik tubuh ini dan pemilik segala hal yang ada di langit dan di bumi. Kepada Allah kita beribadah, kepada Allah kita bersyukur.
Insya Allah doa bi doa. Saya mendoakan Anda semua, dan Anda juga doakan saya. Supaya Allah betul-betul hadir di kehidupan kita dan berkenan hadir di kehidupan kita; Baik di kala senang, atau di kala susah. Baik di kala bahagia, maupun di kala duka. Baik di kala lapang, maupun di kala sempit. Di semua keadaan semoga Allah yang selalu bersama kita, senantiasa kita senantiasa bersama-Nya.
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.
Kami-lah Pelindungmu di dunia dan di akhirat; Di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan apa yang kamu minta.
Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Qs. Fushshilaat: 31-32).
***
Saya belom “pergi” loh, dari sesi ini.
Kita masih mempelajari kisah Bu Yuyun di atas.
Ada baiknya peserta Kuliah Online mempelajari sedikit kisah Bu Yuyun ini, pelan-pelan. Kalau perlu DIULANGI LAGI bacaannya. Betul-betul diresapi. Kenapa ada orang yang begitu dimudahkan urusannya sama Allah, dan mengapa ada yang sepertinya diblok, dipersulit oleh Allah.
Saya meminta Saudara-saudara semua bersabar, mempelajari Kuliah Tauhid ini mahlan mahlan, pelan-pelan. Saudara insya Allah belajar tentang sesuatu yang membuat Saudara-saudara semua ada PERCEPATAN di semua urusan. Termasuk di urusan mengubah hidup, memperbaiki hidup, dan di urusan pencarian solusi buat permasalahan kehidupan yang sedang dihadapi. Namun “Ilmu Percepatan” ini akan bahaya di kedepan harinya, manakala Saudara-saudara tidak punya basic tauhid yang bagus.
Saya tidak terlalu perduli omongan kawan-kawan peserta Kuliah Tauhid yang mengatakan, ada baiknya memberi banyak pelajaran buat kawan-kawan peserta Kuliah Online agar banyak yang didapat. Saya tidak perduli. Saya bahkan ketika belajar, dapat jauh lebih sedikit ketimbang ini. Malah menurut saya, saya sudah terlalu baik, he he he. Saya memberi artikel yang pembahasannya agak luas dan panjang, bisa berbelas-belas halaman. Bahkan sejak jejakan pertama di mukaddimah dan kuliah umum dulu udah kebanyakan belajarnya. Dibanding saya dulu belajar, wuah, saya mah belajarnya se-emprit se-emprit (sedikit sedikit).
Pernah satu ketika saya datang ke seorang ulama. Saya mengadu tentang masalah saya kepadanya. Meminta nasihat darinya. Saya datang dari jam 20 malam. Sampe jam 00 saya belum juga dipanggilnya. Boro-boro diajak bicara. Disuruh mendekat pun tidak. Di awal sih saya diajak bicara. Tapi bicaranya ketus sekali, “Koq datang lagi?!!!”
Saya jawab, “Ya, sebab masalahnya beluman selesai.”
“Ya sudah, tunggu sana,” katanya, sambil menunjuk satu sudut teras majelisnya.
Saudara-saudaraku Peserta Kuliah Online, saya kemudian menunggu dengan sabarnya. Tapi ga urung saya gatel juga untuk tidak bertanya setelah lebih kurang 4 jam saya menunggu!
“Kyai, sudah jam 12 (malam), kapan saya dikasih kesempatan bicara?”
Waktu itu saya lihat tamunya tinggal sedikit. Saya berharap saya bisa nyelang walo sebentar.
Ternyata saya salah.
“Yang nyuruh situ dateng siapa?”
“Ga ada. Saya sendiri.”
“Ya sudah, tunggu saja!”
He he he… Andai tidak ada husnudzdzan, baik sangka, niscaya saya sudah kesal bukan kepalang. Saya tentu akan mengatakan kepada Kyai ini, tidak menghargai tamu. Tapi ya itu. Saya menerima apa kata guru, dan saya memilih menerima perlakuan guru.
Kira-kira jam 1-an dinihari, mendekati jam 2 pagi, saya baru dipanggilnya.
Beliau lalu bertanya, “Tahu IBM ga?”
Sungguh pun saya tahu, tapi saya bingung. “Apa urusannya dengan masalah saya tuh IBM?”, tanya saya. Tentu saja dalam hati. Saya ga berani bertanya langsung. Akhirnya saya jawab singkat saja, “Tahu, Kyai.”
“Nah, IBM itu punya VPN, Virtual Private Network, jaringan jalur khusus. Ntar gue kasih VPN buat elu yang bisa jadi jalur khusus elu berdoa kepada Allah. Insya Allah hutang elu yang segede gunung, kempes dah!”
Kejadian dialog ini terjadi sekitar tahun 2003. Kyai ini akrab dengan istilah-istilah teknologi.
Sumpah. Saat itu saya merasa Kyai saya akan memberi saya sesuatu yang gimanaaa gitu. Sesuatu yang BESAR yang bakal instan yang membuat selesai masalah saya. Sim Salabim. Begitu saya pikir. Ternyata saya tidak sepenuhnya benar. Malah, sempat berkernyit dan tertawa kecil.
Kyai tersebut masuk ke dalam rumahnya, dan sejurus kemudian keluar lagi membawa DUA PENTOL KOREK API. Dua korek api itu dilempar ke arah saya. “Nih pake nih…,” katanya. Ngasihnya bener-bener dilempar. Sebab beliau ngasih sambil berdiri. Sedang saya duduk di bawahnya. “Itu korek api, VPN buat elu. Pake tuh yang bener. Udah gih dah, pulang!”
Saya pulang akhirnya.
Kurang lebih 6 jam saya menunggu, hasilnya 2 korek api saja!
Menggerutu ga saya?
Ntar dulu. Saya berpikir bahwa saya barangkali belajarnya kudu sedikit demi sedikit.
Tapi apa ya maksudnya?
Pelan-pelan saya pikirkan. Hingga akhirnya saya mengaitkan dengan kalimatnya tadi:
“Nah, IBM itu punya VPN, Virtual Private Network, jaringan jalur khusus. Ntar gue kasih VPN buat elu yang bisa jadi jalur khusus elu berdoa kepada Allah. Insya Allah hutang elu yang segede gunung, kempes dah!”
Saya akhirnya mampu atas izin Allah mengkorelasikan 2 korek api yang nyaris tanpa kata-kata itu dengan kalimat singkat Kyai. Rupanya saya disuruh bangun malam. Jangan banyakin tidur. 1 korek api pake buat ngeganjel mata kanan, 1 korek api yang lain buat ngeganjel mata kiri. Supaya jangan kebanyakan tidur. Masya Allah.
Satu hal yang mau saya kata, adalah sabar. Belajar itu harus sabar. Kita sama berdoa kepada Allah, agar Allah betul-betul berkenan memberi kita ilmu yang bermanfaat dunia dan akhirat. Sesuatu yang sedikit yang diberi-Nya manfaat dan ada ridha-Nya, niscaya menjadi sesuatu yang betul-betul berpengaruh positif bagi hidup kita. Wallaahu a’lam.
***
Ok, sampe ketemu dengan materi berikutnya. Insya Allah saya akan tambahin dengan pelajaran di balik Kisah Bu Yuyun, termasuk kenapa koq sepertinya bisa “satu malam”?
Saya mohon maaf atas semua kesalahan saya dalam memberikan pengajaran. Mudah-mudahan Saudara-saudara memaklumi cara saya mengajar ini. Sekali lagi saya berdoa mudah-mudahan segala biaya, waktu, energi Saudara dalam mengklik website ini menjadi amal ibadah dan dihitung sedekah Saudara. Sampaikan ilmu ini kepada sebanyak-banyaknya orang. Tapi sarankan kepada mereka semua, agar mengikuti saja KuliahOnline ini secara langsung, mandiri, agar ada keberkahan lebih banyak buat semua yang terlibat.
Insya Allah tanggal 30 sore saya mengagendakan ketemuan darat (kopi darat), sekaligus syukuran Kuliah Online ini. Insya Allah akan diberitahukan lebih lanjut oleh Web Admin dari Kuliah Online ini. Salam dan doa saya untuk Saudara-saudara semua. Mohon doanya ya. Waktu saya susun dan edit esai kuliah ini, saya sudah mau jalan ke rumah sakit. Bayi saya masih dirawat di Rumah Sakit Harapan Kita. Mudah—mudahan Saudara-saudara tergerak memberikan doa buat kami semua. Terima kasih ya. (sebagian tulisan ini ditulis Ustadz Yusuf di bulan Agustus 2008, red. Tanggal 30 yang dimaksud adalah tanggal 30 Agustus 2008).
Tugas:
TUGAS INI harusnya sudah dilakukan sejak kemaren-kemaren. Tapi ga apa-apa saya ulangin lagi. Buat yang belom, anggap ini sebagai “teguran”.
Niatlah untuk bangun malam, mulai malam ini.
Berdoalah kepada Allah agar bisa bangun malam, serta bangun dalam keadaan sangat segar dan sehat.
Pasang niat sekalian memulai shalat malam selama 40 malam. Sebagai latihan untuk nge-track shalat malam sepanjang tahun, dengan 40 malam dulu sebagai latihannya.
Buat absen seperti 40 hari memelihara shalat berjamaah kemaren dan zikir. Sehingga Saudara punya absen juga shalat malam selama 40 malam. kemaren saya ada yang lupa menjelaskan. Buat perempuan, jika sedang haidh, maka ya ga usah shalat. Insya Allah akan dianggap seakan-akan shalat juga. Amin. Jadi, ga usah dihitung bolong. Dan untuk zikirnya, boleh tetap dibaca. Tentang berjamaahnya, lihat-lihat situasi. Untuk memiliki pengalaman spiritual, bolehlah tetap usahakan ke masjid. Minta ditemani sama muhrim atau sama kawan ya. Tapi lihat-lihat situasi. Untuk perempuan, tetap afhdolnya di RUMAH. Namun tidak ada larangan. Untuk exercise batin, saya menyarankan jalanlah ke masjid. Syukur-syukur bisa bersama suami atau anak. Atau ya tadi, bersama kawan dan muhrim. Janjian aja. Sekalian hitung-hitung dakwah sama yang lain.
Anda BERUNTUNG bila melakukannya di Bulan Ramadhan. Sebab insya Allah bangun malam akan dimudahkan Allah sebab sahur. Jika Saudara sudah melakukan tarawih dan witir, Saudara pun masih diperkenankan untuk tahajjud tambahan tanpa witir.
Ok ya? Paham ya? Tentang 40 malam shalat malam?
Untuk menemani, saya anjurkan lihat-lihat dan pelajari DVD al Waaqi’ah. Saya menyukai surah ini. Bila Anda tidak suka, sebab menganggap nanti hal-hal yang saya suka dan saya seru adalah PERKARA BID’AH, berdoalah supaya ada KELAS OFFLINE di mana saya akan menjelaskan insya Allah tentang perkara-perkara yang dianggap bid’ah. Saya engga mau juga membawa Saudara ke neraka. Dan ga mungkinlah – insya Allah — saya mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan agama. Bila kelak ada yang membid’ahkan sebab punya dasar pemikiran yang berbeda, saya tetap harus menghargai. Namun insya Allah saya memastikan ke kawan-kawan bahwa apa yang saya sampaikan udah saya konsultasikan ke ulama-ulama lebih dari 1 ulama. Semoga bisa digelar OFFLINE KELAS dimaksud. Sebab bisa jadi mereka yang membid’ahkan kebiasaan-kebiasaan yang terjadi di masyarakat, termasuk apa yang terjadi di KuliahOnline ini, sebab memang berbeda cara berpikir, beda cara pandang. Yang dipakai sebagai dalil atau hujjah, adalah dalil-dalil yang bila dilihat sepintas dan “hanya itu” saja, ya selesai lah semua urusan menjadi banyak yang berseberangannya.
Insya Allah Saudara-saudara yang awam akan tambah puyeng dengan penjelasan paragraf ini, he he he. Apa nih si Ustadz? Tahu-tahu bicara soal bid’ah. Apa itu bid’ah? He he, iya. Jadi panjang. Silahkan mencoba saja deh. Mulai saja. Mulai mencoba apa yang saya paparkan dan saya seru di KuliahOnline ini. Teguhkan hati untuk menyelesaikan perjalanan exercise tauhid ini. Saya doakan.
Note: Pesan di www.wisatahati.com atau di www.pppa.or.id., DVD menjadi kaya dalam 7 hari (2 seri), yang bertutur tentang kekuatan shalat malam, buku “Doa-doa dan Amalan Bangun Malam” dan buku “40 Hari Menjadi Kaya”. Insya Allah nanti akan belajar, soal waktu ga jadi masalah buat Allah. Jangankan 40 malam, 7 hari atau 7 malam saja Allah bisa ubah hidup seseorang. Dan di CD Kun Fayakuun terdahulu malah terbilang 1 malam perubahan bisa dinikmati. Tergantung Allah berkehendaknya.
Insya Allah mudah-mudahan bisa membantu Saudara-Saudara semua belajar dan membiasakan diri untuk shalat malam. semoga pula Saudara-Saudara termotivasi untuk shalat malam, dan bahkan menularkan virusnya kepada orang lain. Jazaakumullaah.










Allohu Akbar
buku islami